MUDIK sering dianggap sebagai tradisi tahunan masyarakat Indonesia saat akan merayakan Idul Fitri.
Terutama bagi perantau, mudik menjadi istilah pulang ke kampung halaman, dan menjadi momen melepas rindu dengan keluarga dan sanak saudara.
Meski memiliki makna sederhana, namun mudik tak hanya bercerita tentang perjalanan jauh dan kemacetan menuju kampung halaman.
Namun, ada sebuah kehangatan dan kebersamaan yang dinantikan sepanjang jalan.
Asal Kata Mudik yang Populer dari Zaman ke Zaman
Dikenal sejak tahun 1970-an, mudik berasal dari kata dasar “udik” yang berarti desa atau kampung.
Dalam buku Potret Buram Politik Kekuasaan karya Masduki Duryat, dan dilansir dari Detik.com, kata udik kemudian diberikan awalan ‘me’ dan berubah menjadi ‘meudik.’
Kesulitan pelafalan vokal pada kata tersebut berujung pada penghapusan huruf vokal ‘e,’ sehingga disebutlah mudik.
Kata mudik dalam bahasa Minang, berarti pergi ke hulu sungai atau ke tempat asal, atau tempat tinggi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik adalah kata majemuk sebagai kata kerja yang berarti (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman).
Pada buku Ikhtiar Dalam Bahasa karya Mukhaiyar, dkk, mudik adalah kata kerja yang memiliki konteks pulang ke negeri/kota asal menjelang Idul Fitri atau hari raya lain di Indonesia.
Menurut Antropolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Heddy Shri Ahimsa-Putra, istilah mudik berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung.
“Saat orang mulai merantau karena ada pertumbuhan di kota, kata mudik mulai dikenal dan dipertahankan hingga sekarang saat mereka kembali ke kampungnya,” jelasnya, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (10/3/2026).
Mudik sendiri mulai dikenal oleh masyarakat yang pindah ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan untuk mencari pekerjaan pada masa orde baru.
Prof Heddy mengatakan, mereka yang lama hidup di kota biasanya merasakan kerinduan dengan kampung asal dan kerabat di sana.
“Kangen pasti. Menunggu libur yang agak panjang agar bisa kumpul sangat ditunggu. Karena kita di Indonesia masyarakat muslim yang paling banyak maka lebaran Idul Fitri jadi pilihan. Berbeda di Amerika dan Eropa, warganya banyak pulang kampung saat perayaan thanksgiving atau perayaan natal. Sementara di kita, ya Idul Fitri,” paparnya.
Berikut Makna dan Manfaat Mudik
1. Menyambung silaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, dan para tetangga di kampung halaman
2. Memberi dampak ekonomi mikro, seperti berbagai uang tunai atau barang dengan keluarga di kampung halaman
3. Menjaga hubungan kekerabatan dan persatuan
4. Menciptakan pengalaman kultural dan religi yang bersifat positif
5. Memupuk keterikatan secara batin dan sosial dengan keluarga dan masyarakat setempat. (*)



























