MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Penyakit Tuberkulosis (TB) dapat menyerang siapapun tanpe melihat kondisi ekonomi dan status sosial.
Karena itu kata Kepala Puskesmas Bestari dr Mayer Remora Situmorang MKT mengatakan, diperlukan sosialisasi ke masyarakat.
“Kebetulan saya yang menangani TB disini, masih ada stigme yang tidak baik kepada penderita TB,” katanya, Rabu (6/9/2023) di Puskesmas Bestari.
Seperti kemarin, katanya, ada pasien yang datang terkonfirmasi TB. Saat ditanyakan, apa mempunyai anak kecil dirumah, diat takut membawanya nanti kena TB.
“Saya minta dibawa kemari untum diperiksa. Karena kalaupum TB, mudah mengobatinya asal mengikuti petunjuk dokter, bisa diatasi,” ujarnya.
Dari pertemuan dengan beberapa pasien TB, menurut Mayer, ada stigma malu kalau mengidap penyakit tersebut.
“Pengobatannya sekarang sudah lebih gampang, makan obat saja dan ditanggung negara, kalau tidak punyal BPJS, tetap kita layani. Termasuk untuk pemeriksaan penunjangnya dan untuk follow up pengobatan sampai sembuh tidak dipungut biaya dan obatnya tersedia di Puskesmas,” ujarnya.
Mayer yang pernah bertugas di RS Kumpulan Pane menjelaskan, untum kesembuhan, pasien TB lini pertama selama 6 bulan. Namun, kebanyakan pasien yang datang sudah putus obat. Keluhannya seperti buang air kecil warnanya merah, perut mual.
Diakuinya, setiap obat ada efek sampingnya. Karena itu, ia memberikan edukasi agar jangan menghentikan obat sepihak, konsultasikan dengan dokter. Juga konsultasikan kalau ada memiliki penyakit lain, jadi bisa diberikan obatnya.
“Seperti kalau ada penyakit gula atau DM, diberikan obat TB dengan gula. Juga kalau ada penyakit hipertensi, diberikan obat TB dengan hipertensi. Karena penelitian saya mengenai TB MDR. Setelah selesai, saya lebih fokuskan ke TB,” katanya.
Mayer yang baru menjabat sebagai Kepala Puskesmas Bestari sejak Maret lalu mengatakan, sejak dia jadi Kapus, penemuan TB anak yang sulit ditegakkan daripada orang dewasa dan mereka sudah mulai terbuka.
“Kalau hasil pemeriksaan TB positif, kita berikan obat. Kalau negatif, tetapi ada kontak erat dengan yang lain, kita berikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) dan gratis,” ujarnya.
Sementata untuk kasus TB sejak dirinya di Puskesmas Bestari, Mayer menyebutkan ada 49 kasus, ada penambahan.
“Saya juga sampaikan ke Kader dicarilah seperti orang yang batuk berkepanjangan. Periksakanlah walaupun belum tentu TB. Tapi kalau dia TB agar jangan menularkan minimal satu lingkungan rumahnya, kita kasih obat dan yang lain dilindungi,” ucapnya.
Dari 49 kasus TB, lanjut Mayer, ada juga yang TB-HIV, TB MDR. Untuk itu, dirinya berkolaborasi dengan rumah sakit paru.
Begitupun, ia meminta agar pengawas minum obat (PMO) penderita TB yang harusnya dari keluarganya mengingatkan dan mencatat tanggal makan obat.
“Kalau peran Puskesmas kita datang ke rumahnya, kita lihat dan tanyakan bagaimana minum obatnya. Kita kasi obat dua minggu, dari jumlah obat misal 28 tablet, kita lihat sisanya dan disitu kita ketahui apakah memang dimakan obatnya,” imbuhnya.
Pihaknya, lanjut Mayer, tetap memfollow up untuk makan obatnya selama 6 bulan dan untuk sembuh dinyatakan oleh dokter paru.
Ia mengimbau untuk pasien TB jangan malu, karena TB adalah penyakit umum, artinya semua bisa kena tanpa memandang pekerjaan dan status sosial.
Menurutnya, pendukung penyakit TB lebih besar pada orang yang memiliki penyakit DM, yang kena HIV, anak anak dengan status gizi buruk.
“Pada pasien TB, untuk sembuh syaratnya cuma satu, rutin minum obat dan kontrol ke pelayanan kesehatan untuk mengetahui keberhasilan pengobatan,” pesannya. (GS)



























