LANGKAT (HARIANSTAR.COM) – Program revitalisasi satuan pendidikan direktorat sekolah menengah pertama direktorat jenderal PAUD Dikdasmen di Kementerian pendidikan dasar dan menengah nama kegiatan sama dengan bantuan pemerintah program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026 SMP Negeri 1 Hinai, Rabu (13/5/2026).
Pengerjaan program pekerjaan revitalisasi satuan pendidikan rehabilitasi ruang kelas dengan tingkat kerusakan minimal sedang beserta perabotnya-rehabilitasi ruang UKS beserta perabotnya-rehabilitasi ruang perpustakaan beserta perabotnya dengan jumlah dana bantuan : 1,289,259,000 ( Satu milyar dua ratus juta delapan puluh sembilan dua ratus lima puluh sembilan ribu rupiah ) yang bersumber dana dari APBN tahun anggaran 2026 Pelaksana Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan ( P2SP) dalam waktu pelaksanaan 150 hari Klender.
Dalam pengerjaan program Revitasi SMP Negeri 1 Hinai Kabupaten Langkat terindikasi kecurangan dari bahan material bahan bangunan besi tiang cor yang memakai besi berukuran 10 mm dan behel memakai ukuran besi 7 mm.
Hal tersebut membuat pertanyaan kalangan masyarakat dengan menggunakan anggaran dana milyaran rupiah dengan Dana APBN tersebut dikerjakan dengan bahan material diduga tak sesuai bestek.
Adanya indikasi dugaan mark -up penggunaan ukuran besi tiang bangunan memakai ukuran besi 10 mm yang diduga tidak sesuai bestek (spesifikasi teknis) pada renovasi gedung sekolah adalah masalah serius yang berpotensi melanggar hukum dan membahayakan keselamatan. Temuan ini kepada pihak berwenang agar dilakukan audit konstruksi dan pemeriksaan spesifikasi.
Pasalnya, revitalisasi sekolah merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, dan hingga kini terus dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai bentuk komitmen dalam menyediakan layanan pendidikan yang aman dan bermutu untuk semua.
Dalam perkembangan pelaksanaan program, beberapa satuan pendidikan yang telah menerima manfaat terdapat kalangan wilayah terdampak musibah banjir di Kabupaten Langkat pada tahun 2025 lalu.
Sebagai informasi, seluruh dana bantuan ditransfer langsung ke rekening sekolah dan dikelola secara mandiri oleh sekolah. Pengawasan juga dilakukan secara bersama-sama dengan Dinas Pendidikan.
Di lokasi Program Dana Revitasi di SMP Negeri 1 Hinai diduga memakai bahan bangunan berupa besi berukuran 10 mm dengan pengikat behel berukuran 7 mm terpasang sebagai penyangga tiang beton. Mestinya menurut dari sumber bahwa tiang bangunan digunakan dengan bahan material besi berukuran 12 mm hingga berukuran besi ulir 16 mm dan behel memakai ukuran 8 mm.
“Saya sudah banyak memantau program proyek pengerjaan Revitalisasi menggunakan besi berukuran 12 mm dan behel ukuran 8 mm. Bahkan ada juga pihak sekolah lain memakai besi ulir berukuran 16 mm,” cetus sumber kepada awak media ini.
Sementara Kepala sekolah SMP Negeri 1 Hinai, T Matondang Spd sampai saat ini belum dapat di konfirmasi awak media terkait program dana Revitalisasi tersebut.
“Bapak sudah pulang, kabarnya beliau ada undangan pesta,” cetus salah seorang sekurity sekolah kepada awak media ini.
Risiko Revitalisasi Menjadi Korupsi Berjamaah
Dengan anggaran pendidikan yang terus meningkat, program revitalisasi dan digitalisasi sekolah kini menjadi “lahan basah” baru yang menggiurkan.
Risiko korupsi berjamaah terjadi karena beberapa faktor. Pengadaan yang tidak transparan dan terpusat. Ketika seluruh proses pengadaan hanya dilakukan oleh sekelompok kecil aktor birokrasi, potensi penyalahgunaan kekuasaan. (Tim)



























