ACEH TAMIANG (HARIANSTAR.COM) – Sebelum banjir melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025, musala di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang nyaris tak pernah gelap. Bangunan sederhana itu selalu diterangi listrik, menjadi sumber cahaya sekaligus pusat kehidupan bagi para siswa, terutama mereka yang tinggal di asrama.

Setiap pagi, teras musala dipenuhi suara anak-anak yang menghafal Alquran. Saat malam tiba, ruang yang sama berubah menjadi tempat berkumpul, belajar, dan bermain. Ketika waktu salat datang, suasana menjadi semakin khusyuk dengan lantunan azan yang menggema dari pengeras suara.
Suara itu berasal dari Imam, siswa tunanetra kelas X kelahiran 2007 asal Sei Tualang, Kabupaten Langkat. Di sekolah, ia dipercaya mengemban amanah sebagai muazin.
Bagi para siswa, musala bukan sekadar tempat ibadah. Di sanalah mereka menghabiskan banyak waktu, dari belajar hingga bercengkerama bersama kawan-kawan. Bahkan ketika listrik di lingkungan sekolah padam, musala tetap menjadi tempat berkumpul karena bangunan itu masih terang. Air untuk mandi pun tetap tersedia berkat pompa yang terus bekerja.
“Kami banyak aktivitas di musala, dari belajar sampai main sama kawan-kawan. Apalagi kalau listrik padam, semua kumpulnya di sini. Kawan-kawan mandinya juga di musala karena listrinya tetap hidup berkat tenaga surya,” ujar Imam.

Tak jauh dari musala, di area parkir sekolah, terpasang deretan panel surya berkapasitas 3,3 kWp yang setiap hari menangkap sinar matahari. Energi tersebut disimpan dalam baterai berkapasitas 5 kWh, lalu digunakan untuk menyalakan lampu, pendingin ruangan, hingga pompa air di musala.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) itu dipantau oleh PT Pertamina melalui EP Rantau Field sebagai bagian dari Program Sekolah Energi Berdikari (SEB) di bawah naungan PT Pertamina Hulu Rokan Zona 1.
Kehadiran PLTS membawa manfaat besar. Bukan hanya menopang fasilitas sekolah, tetapi juga membuka ruang belajar baru bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal teknologi dan dunia kerja. Pihak sekolah menyebut penghematan biaya listrik yang diperoleh mencapai sekitar Rp500 ribu per bulan.

Lebih dari itu, keberadaan panel surya membantu sekolah menekan emisi karbon hingga 1.565 kilogram CO2 ekuivalen per tahun. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pendidikan berkualitas dan energi bersih yang terjangkau, sekaligus target Net Zero Emission 2060.
Di belakang sekolah, Program SEB juga menghadirkan aquaponik, sistem terpadu antara budidaya ikan dan tanaman sayur. Kolam ikan berjajar rapi di antara rak-rak sayuran hijau, menghadirkan ruang belajar baru tentang pangan berkelanjutan.

Di tempat itu, siswa dikenalkan pada konsep sains seperti siklus air, ekosistem, nutrisi tanaman, hingga pertumbuhan makhluk hidup. Pembelajaran tidak lagi berhenti di ruang kelas, melainkan hadir langsung melalui pengalaman nyata.
Para siswa telah beberapa kali memanen hasil tanaman dari lahan aquaponik tersebut. Bahkan unit kegiatan siswa tata boga mengolah hasil panen menjadi berbagai produk makanan yang kemudian dijual kepada warga sekitar. Dari musala yang terang hingga kebun yang produktif, sekolah ini membuktikan bahwa energi bersih mampu menyalakan harapan.






















