SAMOSIR (HARIANSTAR.COM) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mensosialisasikan pengaturan pola tanam serentak kepada kelompok tani di Aula Kantor Camat Pangururan, Samosir.
Sosialisasi dibuka Bupati Samosir Vandiko Gultom diwakili Camat Pangururan, Robintan Naibaho dengan menekankan agar seluruh peserta mengikuti rangkaian berpikir positif tentang perkembangan pertanian kedepan. “Tantangan pertanian kedepan sangat luar biasa sehingga perlu kajian ilmiah membuahkan hasil yang baik” tutur Robintan, Selasa (12/8/2023) di Pangururan.
Plt. Kadis Ketapang dan Pertanian, Tumiur Gultom menyampaikan, kegiatan sosialisasi akan dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 11-13 September 2023, dengan menjangkau seluruh Kecamatan di Samosir. Peserta terdiri dari utusan kelompok tani dari setiap desa, para kepala desa, Kepala UPTD BPPP Wilayah I dan II, Koordinator BPP, penyuluh pertanian se-Kabupaten Samosir.
Untuk hari pertama di aula Kantor Camat Pangururan dengan peserta dari Kecamatan Pangururan dan Ronggur Nihuta dilanjutkan di Aula Kantor Camat Harian dan Sianjur Mula mula.
Sebagai Nara sumber dari BMKG Stasiun Klimatologi Deli Serdang, Wahyudin, Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Sumut, Nazaruddin Hutapea, Ketua KTNA Kab. Samosir, Dinas Ketapang dan Pertanian Samosir.
Sosialisasi Pola Tanam Serentak merupakan suatu langkah untuk mendukung program Pangula Nature telah dicanangkan Pemkab Samosir sesuai dengan Perbup Nomor 11 tahun 2022.
Pengaturan Pola Tanam serentak di Samosir yang melibatkan kajian ilmiah dari BMKG, BSIP, serta kearifan lokal.
Melalui sosialisasi ini , Tumiur Gultom berharap pola tanam serentak segera dikalenderkan berdasarkan kawasan. Disebutkan bahwa kalender tanam tidak bisa disamakan se-Kabupaten Samosir, namun akan dibagi per kawasan sesuai dengan kondisi daerah. Kalender tanam untuk pola tanam serentak akan ditetapkan sesuai kesepakatan kelompok tani setiap Gapoktan.
“Rangkuman dari narasumber akan dibuat menjadi pedoman kalender tanam per kawasan dalam satu daerah. Pengaturan pola-pola tanam juga akan merotasi dan menyesuaikan seperti apa tanaman yang cocok, semisal selesai panen padi bisa ditanam kacang atau tanaman lainnya, sehingga tidak hanya satu jenis tanaman saja dalam satu lahan,” ungkapnya.
Selain itu, Tumiur mempekenalkan Gempita (Gerakan Mandiri petani) kepada kelompok tani. Melalui Gempita, petani memahami pembuatan dan penggunaan pupuk organik, pestisida nabati, pakan organik, pertanian yang tertib teratur dan dampak pembakaran lahan.
BSIP Sumut, Nazaruddin Hutapea dengan materi Membangun pertanian maju, mandiri, modern menyampaikan, pola tanam serentak diperlukan tertib tanam dalam hal waktu, jenis, varietas dan kerjasama kelompok. Menggunakan teknologi terapan dengan penggunaan pupuk kandang/kompos, penaburan kaptan untuk menaikkan Ph, benih bermutu berlabel dan pergiliran varietas. (JB Rumapea)



























