JAKARTA (HARIANSTAR.COM) – Baru baru ini, polemik mengenai masa pengabdian penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Perdebatan publik ini dipicu oleh viralnya unggahan seorang alumni LPDP yang merelakan anaknya menjadi Warga Negara Asing (WNA).
Insiden tersebut memicu reaksi tajam dari warganet yang secara luas mempertanyakan komitmen serta kewajiban kontribusi para alumni untuk kembali ke Indonesia.
Menanggapi polemik yang beredar, pemerintah kembali menegaskan aturan skema layanan pasca-studi yang mengikat setiap penerima beasiswa.
Saat ini, LPDP semakin mempertegas garis batas kewajiban para penerima beasiswanya (awardee).
Melalui kebijakan masa pengabdian, kepulangan ke Tanah Air bukan lagi sekadar imbauan moral, melainkan sebuah kontrak kontribusi yang mengikat secara matematis dengan skema 2N+1.
Ketegasan lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan ini tentu beralasan. Sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945 yang mengunci alokasi 20% APBN untuk sektor pendidikan, negara telah menggelontorkan investasi besar-besaran.
Tercatat hingga November 2025, akumulasi dana abadi pendidikan yang dikelola telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp154,11 triliun. Pencapaian ini merupakan lonjakan yang sangat masif, mengingat modal awal pembentukan lembaga ini dulunya hanya sebesar Rp1 triliun.
Untuk memastikan triliunan uang rakyat ini memberikan impak langsung bagi roda pembangunan nasional, LPDP menerapkan mekanisme pengabdian yang sangat presisi:
Dikutip dari rmol, Selasa (24/2/2026), rumus pengabdian 2N+1: Setiap alumni jenjang magister maupun doktor diwajibkan untuk mengabdi di Indonesia dengan durasi dua kali masa studi ditambah satu tahun.
Kehadiran Fisik: Aturan ini mewajibkan para alumni untuk menetap secara fisik dan berkarya nyata di dalam negeri.
Simulasi Lapangan: Sebagai gambaran konkret, jika seorang awardee menghabiskan waktu dua tahun untuk menyelesaikan program magister, maka ia memiliki “utang waktu” untuk berkontribusi di Indonesia selama lima tahun berturut-turut pasca-kelulusan.
Pada akhirnya, aturan main ini kembali mengingatkan esensi utama dari program beasiswa negara: ini bukanlah tiket searah untuk mengejar karier pribadi, melainkan investasi strategis negara untuk masa depan. Ketika studi usai, saatnya kembali untuk melunasi janji. (YS)


























