PAKISTAN (HARIANSTAR.COM) -Perundingan yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan antara Iran dan Amerika Serikat berakhir tanpa kesepakatan, Sabtu (11/4/2026).
Dilansir dari Tasnim, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan, meskipun Iran mengajukan beberapa inisiatif yang berwawasan ke depan selama pembicaraan, Amerika Serikat pada akhirnya gagal mendapatkan kepercayaan dari para negosiator Iran.
Dalam sebuah unggahan di akun X-nya pada Minggu, Qalibaf mengatakan, sebelum negosiasi ia menekankan bahwa kami memiliki niat baik dan itikad yang diperlukan, tetapi karena pengalaman dari dua perang sebelumnya, kami tidak mempercayai pihak lain.
Rekan-rekan saya di delegasi Minab-168 Iran menyampaikan inisiatif-inisiatif yang berwawasan ke depan, tetapi pihak lain pada akhirnya gagal mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini,” tambahnya.
“Amerika Serikat memahami logika dan prinsip kami, dan sekarang saatnya untuk memutuskan apakah mereka dapat memperoleh kepercayaan kami atau tidak,” kata Qalibaf.
Kami percaya bahwa diplomasi kekuatan adalah pendekatan lain di samping perjuangan militer untuk mewujudkan hak-hak rakyat Iran, dan kami tidak akan berhenti berupaya untuk mengkonsolidasi pencapaian empat puluh hari pertahanan nasional oleh rakyat Iran sedetik pun,” katanya.
“Saya menghargai upaya negara sahabat dan saudara kita, Pakistan, dalam memfasilitasi proses negosiasi ini, dan saya menyampaikan salam kepada rakyat Pakistan,” kata Ketua Parlemen.
Qalibaf juga memuji “rakyat Iran yang heroik” karena hadir di jalanan dan mendoakan para negosiator, serta mengapresiasi para negosiator Iran atas upaya tanpa lelah mereka selama negosiasi intensif selama 21 jam di Pakistan.
Dikutip dari rmol, kantor berita Tasnim menyebut AS berupaya memperoleh konsesi yang sebelumnya gagal diraih melalui eskalasi militer, termasuk tuntutan terkait uranium yang diperkaya Iran serta kontrol atas Selat Hormuz.
Dikatakan bahwa delegasi Iran telah mencoba mendorong kerangka negosiasi bersama, namun tuntutan AS justru menghambat kemajuan.
Tasnim juga mengungkap bahwa sebelum perundingan dengan Washington dimulai, delegasi Iran terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pimpinan Pakistan.
Setibanya di Islamabad, rombongan yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ali Bagheri, bertemu dengan Kepala Angkatan Darat Asim Munir serta dampaknya Perdana Menteri Shahbaz Sharif untuk menyelaraskan posisi dan menyampaikan keberatan atas pelanggaran komitmen oleh AS.
Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengatakan kepada Fars News bahwa delegasi AS tampak mencari dalih untuk keluar dari perundingan.
Sumber itu menambahkan bahwa Iran saat ini tidak memiliki rencana untuk melanjutkan putaran negosiasi baru, sembari menegaskan bahwa Washington justru lebih membutuhkan kesepakatan guna memperbaiki posisinya di panggung internasional.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa pembicaraan tersebut berakhir tanpa hasil. Ia mengklaim pihaknya telah menunjukkan fleksibilitas, namun Iran menolak proposal yang diajukan sebagai tawaran terbaik.
“Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat,” ujarnya.
Hingga kini, belum ada jadwal maupun lokasi untuk putaran perundingan selanjutnya.



























