JERUSALEM (HARIANSTAR.COM) – Israel tidak akan menarik pasukannya dari Jalur Gaza atau mengizinkan rekonstruksi dimulai sebelum Hamas melucuti seluruh persenjataannya.
Hal itu dikatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan kepada utusan Amerika Serikat Jared Kushner pada Senin, 17 Agustus 2026 dilansir dari Gaza Media.
Pernyataan itu disampaikan seorang pejabat senior Israel kepada media internasional.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah kebuntuan berkepanjangan atas implementasi peta jalan gencatan senjata yang mulai berlaku 10 Oktober 2025. Hamas menolak melucuti senjata kecuali proses itu dibarengi penghentian serangan Israel yang berlangsung hampir setiap hari serta dimulainya penarikan pasukan Israel dari lebih separuh wilayah Gaza yang masih diduduki.
Dalam pertemuan itu, Netanyahu dan Kushner juga sepakat bahwa seorang jenderal Amerika akan mengawasi proses pemusnahan senjata Hamas, sebagai langkah awal demiliterisasi Gaza. Kesepakatan ini disebut pejabat Israel sebagai bagian dari upaya menjembatani perbedaan antara Israel dan mediator internasional soal kerangka pascaperang di Gaza.
Kunjungan Kushner ke kawasan tersebut turut mencakup pertemuan dengan pimpinan Hamas di El Alamein, Mesir, pada akhir pekan sebelumnya—pertemuan langka antara utusan senior AS dan pimpinan kelompok itu. Pertemuan turut dihadiri Direktur Board of Peace Nickolay Mladenov. Belum ada rincian resmi mengenai hasil pertemuan tersebut.
Delapan Negara Salahkan Israel
Menyusul penolakan Israel terhadap sejumlah elemen kunci proposal Trump pekan lalu, menteri luar negeri delapan negara—Yordania, Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir—mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam sikap Israel. Pernyataan itu menyebut Israel kini “menanggung tanggung jawab atas terhambatnya upaya perdamaian di Gaza.”
Board of Peace, badan internasional yang diketuai Presiden AS Donald Trump untuk mengawasi implementasi gencatan senjata, dilaporkan tengah mempertimbangkan kerangka pelucutan senjata baru di tengah penolakan Israel terhadap skema penarikan pasukan bertahap.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi tambahan dari kantor Netanyahu maupun dari pihak Hamas terkait hasil konkret pertemuan dengan Kushner di Jerusalem.




















