SOLO (HARIANSTAR.COM) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi keuangan digital masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin memahami risiko investasi aset digital seperti kripto dan tokenisasi aset secara kritis, bijak, dan bertanggung jawab.
Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam kuliah umum Digital Financial Literacy (DFL) yang digelar di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram S.H., Universitas Negeri Sebelas Maret, Senin (11/5).
“Kami ingin menjadikan literasi keuangan digital sebagai fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah pesatnya transformasi digital dan meningkatnya risiko keuangan,” kata Adi.
Adi menjelaskan, perkembangan teknologi keuangan digital, termasuk blockchain dan kriptografi, telah melahirkan inovasi seperti tokenisasi aset yang membuka peluang investasi dengan nilai semakin terjangkau.
Inovasi tersebut memungkinkan masyarakat, termasuk generasi muda, UMKM, dan pelaku usaha kecil, untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi dan investasi formal.
Menurut Adi, kegiatan DFL merupakan ikhtiar bersama yang strategis dalam memperkuat literasi keuangan digital masyarakat, khususnya generasi muda. Sebab, keberhasilan pengembangan sektor keuangan digital dan aset kripto tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan regulasi, tetapi juga oleh kualitas pemahaman masyarakat.
Lebih lanjut, Adi menambahkan bahwa OJK bersama perguruan tinggi dapat menjadi orkestrator kolaborasi pentahelix, yakni sinergi antara regulator, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas dalam mendorong pengembangan ekosistem keuangan digital yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Ia berharap kolaborasi antara OJK dan perguruan tinggi dapat terus diperkuat guna membangun generasi muda yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga bijak, aman, dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan digital.
Aset Kripto Meningkat
Perkembangan aset kripto di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi jumlah pengguna maupun nilai transaksi.
Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai lebih dari 21 juta akun pengguna. Sepanjang tahun 2025, nilai transaksi perdagangan aset kripto tercatat mencapai Rp482,23 triliun.
Selain itu, jumlah aset kripto yang diperdagangkan di Indonesia meningkat dari sekitar 501 aset pada 2023 menjadi lebih dari 1.464 aset pada 2026. Pertumbuhan industri tersebut turut tercermin dari penerimaan pajak aset kripto yang pada 2025 mencapai sekitar Rp796,73 miliar.
Saat ini terdapat 25 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang legal dan berizin, serta didukung oleh ekosistem bursa, kliring, kustodian, perbankan, hingga penyedia jasa pembayaran.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret, Hartono, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan DFL yang dinilai relevan dengan perkembangan industri keuangan digital saat ini.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki literasi yang kuat sehingga mampu memahami risiko dan mengambil keputusan secara rasional.
“Kolaborasi ini menjadi bukti nyata sinergi antara regulator dan perguruan tinggi dalam membangun generasi muda yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki literasi serta tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan digital,” ujar Hartono.
Ia menilai masih banyak generasi muda yang menjadi korban kejahatan finansial digital, mulai dari penipuan investasi ilegal hingga praktik perdagangan aset berisiko tinggi yang dilakukan tanpa pemahaman memadai karena keputusan investasi diambil secara emosional dan tidak berbasis literasi yang kuat.
Kegiatan DFL membahas berbagai topik terkait perkembangan kripto, tokenisasi aset, perencanaan keuangan, hingga peran regulator dan akademisi dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan.
Sejumlah narasumber dari regulator, industri, akademisi, dan praktisi keuangan turut hadir, antara lain Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Ludy Arlianto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia William Sutanto, Certified Financial Planner Melvin Mumpuni, serta Kepala Center for Fintech and Banking UNS Putra Pamungkas.
Kegiatan DFL diselenggarakan secara luring dan daring dengan diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri atas mahasiswa, sivitas akademika, pelaku industri, dan masyarakat umum.
Acara tersebut juga dihadiri Kepala Departemen Organisasi, Sumber Daya Manusia, dan Budaya OJK Rudy Agus P. Raharjo, Kepala OJK Solo Muhammad Mufid, serta Head of Community Coinvest Niki Sekar Dewayani.
Melalui penyelenggaraan DFL, Otoritas Jasa Keuangan memperkuat kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, industri, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat agar semakin cerdas secara finansial, aman secara digital, dan bijak dalam mengambil keputusan investasi di era transformasi digital.


























