MEDAN (HARIANSTAR.COM)– Harga minyak mentah dunia kembali alami kenaikan selama sei perdagangan di Asia berlangsung. Harga minyak mentah jenis Brent kembali naik dan ditransaksikan dikisaran harga $106.3 per barelnya.
Kenaikan harga minyak mentah tersebut tidak begitu mendapatkan respon besar dari harga emas. Yang walaupun terpantau alami sedikit penurunan, namun masih bertahan dikisaran harga $4.571 per ons troy.
Hal tersebut dikatan Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (1/4).
Harga emas selama sesi perdagangan berlangsung lebih banyak alami koreksi teknikal. Emas alami kesulitan untuk menembus level psikologis $4.600, atau masih berada dikisaran harga 2.5 juta per gramnya.
Sementara itu mata uang Rupiah ditutup melemah ke level 16.990 per US Dolar, setelah Rupiah sempat melemah dikisaran harga 17.030 per US Dolar, kata Gunawan.
Disebutkan Gunawan, Secara teknikal Rupiah juga kerap berbalik saat harga konversinya menyentuh 17 ribu. Diyakini Bank Indonesia menjadi aktor dibalik stabilnya mata uang Rupiah, yang terlihat sulit untuk melewati level psikologis 17 ribu.
“Pelemahan Rupiah pada hari ini menjadi salah satu sentimen negatif bagi IHSG secara keseluruhan. Ditambah dengan sentimen negatif perang timur tengah yang cenderung meningkat, ” Ujar dia.
Disisi lain, mayoritas bursa saham di Asia pada perdagangan hari ini ditutup melemah. IHSG yang sempat diransaksikan di zona hijau dan sempat menyentuh level 7.155 sebagai level tertinggi, terpaksa harus ikut terseret arus pelemahan bursa saham di Asia dan ditutup melemah 0.61% di level 7.048,22. Sejumlah emiten yang turut memicu terjadinya koreksi pada IHSG diantaranya adalah BBRI, BUMI, ANTM, BBNI hingga hingga ASII, ungkapnya.
Dikatan nya, Pelaku pasar akan terus mewaspadai kemungkinan buruk jika Rupiah bertahan di atas level 17 ribu per US Dolarnya. Secara psikologis bisa mempengaruhi keputusan investor di pasar keuangan yang cenderung menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan di tanah air. Kinerja Rupiah menjadi kunci utama bagi pergrakan pasar keuangan secara keseluruhan. Dan upaya untuk menstabilkan Rupiah saat ini memiliki tantangan yang berat karena lebih banyak dipengaruhi sentimen negatif eksternal, tutup Gunawan. (Abi)



























