MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Pameran foto “Usai Bandang” yang digagas Komunitas Ngobrol Buku tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga wadah aksi nyata bagi penyintas banjir bandang di Sumatra.
Berangkat dari dokumentasi penyaluran bantuan ke Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Aceh Tamiang, komunitas ini telah sepuluh kali mengirimkan bantuan sepanjang Desember 2025 hingga Januari 2026. Dokumentasi lapangan oleh fotografer Andi Gultom kemudian dihadirkan kepada publik sebagai potret “seusai bandang”.
Selain pameran foto, kegiatan ini juga menggalang donasi berupa dana, buku cerita anak, buku pengetahuan umum, alat tulis, dan mainan anak. Pengunjung dapat berdonasi langsung maupun melalui pembelian merchandise, pasar barang bekas, dan bazar buku yang digelar bersamaan.
Diskusi bertema “Luka yang Tidak Terlihat: Trauma Pasca Banjir Bandang” menghadirkan konsultan perlindungan anak dari UNICEF dan psikolog untuk membahas dampak psikologis yang kerap terabaikan dalam penanganan bencana. Peserta juga dibekali praktik Psychological First Aid (PFA) sebagai keterampilan dasar pendampingan penyintas.
Sementara itu, diskusi “Selamat Saat Air Datang” membahas prinsip dasar bertahan hidup saat banjir bandang, termasuk kesalahan fatal yang sering terjadi dan pentingnya kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Rangkaian kegiatan ditutup pada 14 Februari 2026 dengan diskusi bertema “Cinta yang Bergerak, Ketika Rakyat Menjaga Rakyat”. Bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, penutupan ini menegaskan bahwa solidaritas warga menjadi kekuatan utama di tengah bencana.
Refleksi juga dihadirkan melalui panggung sastra dan pertunjukan seni. Sejumlah penyair, sastrawan, aktor teater, dan musisi Kota Medan membacakan puisi, melakukan dramatic reading, dan menampilkan musik sebagai bentuk keberpihakan pada kemanusiaan.
“Usai bandang bukan berarti persoalan sudah usai. Para penyintas masih membutuhkan perhatian kita,” ujar Andi Gultom.
Melalui seni, diskusi, dan aksi donasi, kegiatan ini menegaskan bahwa empati harus terus dirawat, dan kemanusiaan tidak boleh berhenti pada momen bencana semata. (RED)


























