LANGKAT (HARIANSTAR.COM) – Berdasarkan Data Status Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 angka pravelensi stunting di Sumatera Utara mencapai 21,1 persen artinya 2 dari 10 anak di Sumut mengalami stunting. Sementara itu untuk Kabupaten Langkat, angka prevalensi stunting tahun 2022 berada di angka 18,6 persen.
“Angka ini harus bersama kita turunkan, berusaha kita sekuat tenaga sampai tidak ada lagi anak stunting di langkat, setuju bapak ibu?,” ungkap Delia Pratiwi saat memberikan materi kegiatan Promosi dan KIE Percepatan Penurunan stunting di Kwala Begumit, Langkat, Rabu (30/8/2023).
Delia Pratiwi Br. Sitepu dari Komisi IX DPR RI itu menyampaikan, stunting tidak hanya pada permasalahan pendek dan kurangnya berat badan pada anak, namun juga terkait pada tidak berkembangnya otak, berkurangnya kemampuan berfikir, dan anak akan rentan terkena penyakit.
“Hal ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi sejak anak dalam kandungan,” terang Delia.
“Bagaimana pencegahannya, ibu-ibu ada yang tahu? Bapak-bapaknya ada yang bisa jelaskan?,” tanya Delia kepada peserta kegiatan yang berjumlah 350 orang.
“Ibu-ibu harus perhatikan makanannya, makan makanan yang bergizi cukup mulai mengandung hingga anak berusia 2 tahun. Berikan asi eksklusif hingga 6 bulan, perhatikan sanitasi, kebersihan, harus kerjasama antara ayah dan ibu,” imbaunya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Pokja Advokasi dan KIE BKKBN Sumut Rabiatun Adawiyah yang mengajak masyarakat aktif mengkonsumsi daun kelor, karena memiliki kandungan gizi yang luar biasa bagi tubuh sehingga anak terhindar dari stunting.
Kegiatan itu dihadiri Sekretaris Camat Stabat Magdalena Harahap, Kepala Desa Kwala Begumit, Perwakilan dari Polsek Stabat, Koramil Stabat dan unsur Muspika lainnya. (Rel/GS)



























