MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Kinerja IHSG pada perdagangan akhir pekan iini ditutup turun 0.19% di level 6.639,73. Setelah pada perdagangan sehari sebelumnya juga melemah 0.75%. Kinerja IHSG masih sulit untuk menguat, seiring banyaknya sentimen negatif di pasar saham saat ini. Pelaku pasar masih meragukan kemampuan ekonomi global maupun tanah air untuk keluar dari tekanan saat ini.
“Sejauh ini, sejumlah negara besar masih menebar ketakutan karena kondisi ekonominya sangat rapuh dan sangat berpeluang untuk masuk dalam perlambatan yang lebih buruk dari perkiraan sebelumnya. Atau sebagian lainnya justru sangat berpeluang untuk masuk dalam jurang resesi. Situasi kian buruk setelah Gubernur Bank Sentral AS mengeluarkan statemen yang bernada hawkish,” ujar Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin di Medan, Jumat (23/6/2023).
Gunawan menambahkan, kekuatiran yang saat ini muncul adalah melemahnya harga minyak mentah dunia, meskipun Negara yang tergabung dalam OPEC sudah memangkas produksinya. Ini adalah gambaran dimana ancaman resesi ekonomi global telah membuat harga komoditas terpaksa harus turun. Dan penurunan ini menjadi salah satu pemicu utama bagi sejumlah emiten di pasar saham sulit naik.
Sementara itu, lanjutnya kinerja mata uang rupiah pada perdagangan akhir pekan ini melemah di kisaran level 14.990 – 15.010 per US Dolar. Pelemahan rupiah juga masih turut dipengaruhi oleh sikap The FED yang masih memberikan gambaran bahwa suku bunga berpeuang untuk dinaikkan lagi setidaknya selama dua kali. Dan kenaikan sebesar 50 basis poin dalam kenaikan selanjutnya dinilai sebuah kenaikan yang masuk akal.
US Dolar tentunya diuntungkan karena imbal hasil dari mata uang US Dolar masih akan naik nantinya. Dan rencana kenaikan suku bunga acuan US Dolar tersbeut bukan hanya menekan mata uang rupiah. Harga emas juga turut melemah ke level $1.918 per ons troy pada perdagangan di akhir pekan. Jika dirupiahkan harga emas saat ini ditransaksikan 928 ribu per gramnya,” imbuh Gunawan. (Jae)



























