WASHINGTON (HARIANSTAR.COM) – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.
Jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama pemerintahan Presiden Donald Trump, namun opsi lain juga tersedia.
Berbicara dengan Fox News, Vance mengatakan Trump telah menyampaikan sikapnya dengan sangat jelas bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Ia menyebut mencegah Iran memperoleh senjata nuklir merupakan tujuan utama, yang diupayakan melalui jalur diplomasi.
Namun, menurutnya, Amerika Serikat harus memastikan Iran—yang disebutnya sebagai sponsor terorisme terbesar di dunia—tidak dapat mengancam dunia dengan terorisme nuklir.
Vance berpendapat sebagian besar warga Amerika Serikat sepakat bahwa Iran tidak boleh mengembangkan kemampuan senjata nuklir, dan menyebut hal tersebut sebagai persoalan keamanan nasional dan global.
Ia menambahkan bahwa meski perundingan masih berlangsung, Trump telah menunjukkan kesediaan menggunakan langkah alternatif jika diperlukan.
“Presiden akan berusaha mencapainya secara diplomatik,” kata Vance, seraya menambahkan bahwa Trump memiliki “sejumlah alat lain” untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi, seperti dikutip dari anadolu.
Delegasi Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung dengan mediasi Oman di Jenewa, Swiss, pada Kamis.
Vance mengatakan ia berharap pihak Iran menanggapi perundingan tersebut dengan serius.
Ketika ditanya apakah langkah itu dapat mencakup upaya menggulingkan pemimpin tertinggi Iran, Vance menolak berspekulasi dan menyatakan keputusan akhir akan ditentukan oleh Presiden Trump guna memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.
Ia mengatakan pembicaraan diplomatik dilakukan untuk mencapai penyelesaian yang wajar, dengan tujuan akhir memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Vance juga menyampaikan harapan agar kesepakatan dapat dicapai tanpa tindakan militer, namun menegaskan presiden memiliki kewenangan untuk menggunakan kekuatan militer jika diperlukan.
Dalam konferensi pers bersama Administrator Centers for Medicare & Medicaid Services (CMS) Mehmet Oz, Vance menyatakan Amerika Serikat melihat indikasi bahwa Iran berupaya membangun kembali kapasitas persenjataan nuklirnya setelah serangan AS pada Juni lalu yang diklaim telah menghancurkan fasilitas nuklir Teheran.
Ia menyebut jika Iran mencoba membangun kembali senjata nuklir, hal itu akan menjadi masalah bagi Amerika Serikat, dan menyatakan terdapat bukti upaya tersebut.
Sehari sebelumnya, Trump mengklaim Iran tengah mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat menjangkau wilayah Amerika Serikat. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan rudal negaranya bersifat defensif.



























