GAZA (HARIANSTAR.COM) – Warga Palestina di Jalur Gaza melaksanakan salat Tarawih pada Selasa malam, menandai malam pertama Ramadan, di reruntuhan masjid yang hancur dan di tempat salat darurat yang dibangun di dalam tenda dari kain nilon dan kayu.
Salat tersebut digelar di tengah luasnya kehancuran yang oleh warga Palestina disebut sebagai genosida yang dilakukan Israel.
Pada Selasa malam, Mufti Agung Yerusalem dan Wilayah Palestina sekaligus Ketua Dewan Fatwa Tertinggi, Mohammed Hussein, mengumumkan bahwa Rabu menjadi hari pertama bulan suci Ramadan tahun 1447 Hijriah.
Ini merupakan Ramadan pertama bagi penduduk Jalur Gaza sejak berakhirnya genosida. Perayaan kali ini berlangsung di tengah kehancuran luas dan kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan. Selama dua tahun terakhir, bulan suci tersebut dijalani di bawah bayang-bayang perang dan kelaparan, dengan banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan makanan dasar untuk sahur dan iftar.
Warga Palestina membangun area salat sementara di atas puing masjid setelah lebih dari 1.015 masjid menjadi sasaran selama perang. Berdasarkan data dari Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 835 masjid hancur total dan lebih dari 180 mengalami kerusakan sebagian selama dua tahun konflik.
Dilansir dari gaza media, Kamis (19/2/2026), seorang koresponden Anadolu melaporkan bahwa para jamaah menunaikan salat Tarawih sementara drone pengintai Israel terus terbang di atas wilayah tersebut. Selama salat, mereka memanjatkan doa agar Allah meringankan penderitaan mereka, mengakhiri kesulitan yang dihadapi, dan memperbaiki kondisi berat yang menimpa warga Gaza.



























