MEDAN (HARIANSTAR.COM) – Konferensi Anti-Aging Conference (INDAAC) Sumatera Utara kembali digelar untuk ketujuh kalinya. Kegiatan ilmiah berskala besar ini berlangsung di Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention mulai Jumat (10/4/2026) hingga Senin (13/4/2026).

Konferensi yang diinisiasi oleh Persatuan Dokter Antipenuaan, Wellness, Estetik, dan Regeneratif Indonesia ini menjadi salah satu ajang ilmiah terbesar di Pulau Sumatera. Tahun ini, INDAAC dihadiri 359 peserta dari berbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Aceh, Riau, hingga Sumatera Barat.
Ketua Perdaweri Sumut, dr. Inaldo Halim, M. Biomed (AAM), MH-Kes, Dip.AAM (USA), CIBTAC, AIFO-K didampingi Wakil Ketua Perdaweri Sumut, dr. Liana, M. Biomed (AAM) menyampaikan bahwa INDAAC terus menunjukkan perkembangan signifikan setiap tahunnya, khususnya kualitas materi ilmiah yang disajikan.
Pada gelaran ke-7 ini, INDAAC mengusung tema “Balancing Science and Art, Achieving Natural Looking Result in Aesthetic Medicine”. Tema tersebut tidak hanya menekankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan seni dalam praktik estetika, tetapi juga mengandung pesan kepedulian terhadap lingkungan.
“Inspirasi nuansa alam diangkat karena Sumatera masih bersedih dan dalam masa pemulihan pascabencana. Kami angkat tema save our forest ingin mengajak semua pihak untuk menjaga hutan agar bencana serupa tidak terulang,” ujar Inaldo.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyalurkan bantuan bagi korban bencana melalui Ikatan Dokter Indonesia wilayah Sumatera Utara. Ke depan, Perdaweri juga berencana menjalin kerja sama dalam upaya pelestarian satwa dan lingkungan di Sumatera.
“Acara ini sebenarnya kami ada undang pembicara eco-safe terkait penyelamatan orang utan tapi berhalangan, begitupun kami akan followup ulang ke depan untuk bisa kerja sama dalam edukasi dan penyelamatan orang utan, hewan lainnya dan alam di sumatera,” katanya.
Menurutnya, bencana yang terjadi sebelumnya turut berdampak pada berbagai sektor, termasuk ekonomi dan praktik dokter estetika di sejumlah daerah seperti Aceh. Karena itu, melalui forum ini diharapkan muncul empati sekaligus gagasan untuk menghadapi tantangan ke depan.

Tahun ini, INDAAC berlangsung selama empat hari, lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya. Kegiatan terdiri dari tiga hari simposium di lokasi acara dan satu hari workshop yang digelar di Universitas Prima Indonesia.
“Peserta datang dari berbagai daerah seperti Batam, Jakarta, hingga Palembang, dengan dominasi dari wilayah Sumatera. Tahun ini tidak ada pembicara asing karena pertimbangan situasi global,” jelas Inaldo.
Sementara itu, Liana menambahkan bahwa terdapat 10 workshop yang akan digelar, mencakup berbagai topik seperti skin booster, perawatan kulit, collagen stimulator, hingga teknologi laser. Seluruh workshop tersebut telah terakreditasi dan memberikan Satuan Kredit Profesi (SKP) dari Kementerian Kesehatan RI bagi peserta.
Ia juga menyoroti tren terbaru di dunia estetika yang kini mengarah pada konsep natural. Menurutnya, metode seperti skin booster dan collagen stimulator semakin diminati karena memberikan hasil yang lebih alami, berbeda dengan tren lama yang cenderung berlebihan.
“Estetika sekarang mengedepankan hasil yang natural, tidak lagi membuat wajah terlihat kaku atau seperti boneka. Tujuannya adalah menonjolkan potensi terbaik dari setiap individu secara proporsional,” ujarnya.
Melalui tingginya antusiasme peserta dan dukungan berbagai pihak, INDAAC Sumut 7.0 diharapkan menjadi wadah edukasi, inovasi, dan pengembangan ilmu terbaru di bidang estetika, anti-aging, dan wellness bagi para dokter di Indonesia.


























